DILEMA PEMBELAJARAN TATAP MUKA (PTM) DI MASA PANDEMI
Di tengah menurunnya kasus positif korona (Covid-19),
wacana dibukanya sekolah kembali menguat. Bahkan, Pemerintah DKI Jakarta mulai
Senin 30 Agustus resmi membuka kembali sejumlah gerbang pintu sekolah
yang telah lama tertutup rapat. Begitu juga yang terjadi di Kabupaten Tanah
Bumbu setelah sekian lama sekolah melaksanakan pembelajaran daring (belajar
dari rumah), akhirnya berdasarkan imbauan dari Bupati Tanah Bumbu pada tanggal
08 september 2021 maka sekolah dapat di buka dengan persyaratan yang sudah di
tentukan.
Bisa jadi dengan adanya dibuka kembali sekolah banyak
orangtua menyambut senang keputusan untuk menerapkan kembali pembelajaran tatap
muka (PTM) di sekolah, kendati demikian ada juga sebagian lainnya mungkin masih
banyak juga yang khawatir akan bahaya penularan Covid di sekolah.
Respon berbeda para orangtua siswa itu bisa dimaklumi.
Bagi mereka yang gembira dan senang dengan pelaksanaan PTM lantaran tak lagi
pusing harus mendampingi anaknya sekolah daring yang membuat orang tua kadang
ikut strees dengan banyaknya tugas yang diberikan kepada siswa.
Sebagian dari orangtua sekolah daring ini memang cukup
membebani orang tua. Pasalnya, setiap hari ada saja tugas daring dari guru
kepada para siswanya. Sudah otomatis orang tua juga yang turun tangan membantu
putra putrinya mengerjakan tugas tersebut. Dengan begitu akan menyita waktu
bagi orangtua yang berkerja diluar ataupun menjadi ibu rumah tangga.
Selain adanya tugas dari guru menumpuk, orang tua juga
tetap beranggapan pembelajaran jarak jauh sangat tidak efektif. Lingkungan
rumah yang tidak kondusif membuat siswa sulit mencerna pelajaran dengan baik.
Apalagi ditambah mereka harus mengikuti sistem belajar daring yang tentu saja
menambah keruwetan dalam mengikutinya.
Belum lagi banyak siswa di daerah yang tidak punya
handphone atau koneksi internetnya tidak bagus. Ini semua berpotensi memicu terjadinya
learning loss atau kemunduran secara akademis. Ketidak mampuan orangtua dalam
menyediakan perlengkapan untuk belajar daring merupakan kondisi dimana harus
diperhatikan.
Maka itu, dengan banyaknya permasalahan dari
pemebelajaran daring yang dinilai sangat tidak efektif dan menjadikan keaktifan
siswa menjadin menurun, orang tua berharap sekolah bisa dibuka kembali agar
proses pembelajaran bisa berlangsung normal seperti sebelum pandemi.
Namun, selain adanya kesenangan dari sebagian orangtua, tak
bisa juga diabaikan para orang tua yang tetap khawatir atas penyelenggaraan PTM
di masa pandemi. Memang kasus penularan Covid-19 di Tanah Bumbu sedang menurun
yang semula di level 4 menjadi level 3.
Sesuai arahan Bapak Menteri pendidikan, kebudayaan, riset
dan teknologi bahwa sekolah boleh melaksanakan pembelajaran tatap muka jika
berada di zona level 1, 2 dan 3 dan guru sudah melakukan vaksinasi.
Data periode 14-20 Agustus 2021 mencatat kasus baru dalam
satu minggu terakhir sebanyak 145.361 kasus. Angka itu turun sebesar 26,2%
dibandingkan periode 7-13 Agustus.
Namun, jangan lantas senang lalu kendor. Data itu tetap
menyimpan persoalan karena belum sepenuhnya menggambarkan kondisi sebenarnya.
Sebab, di tengah penurunan kasus positif, kapasitas testing masih terbatas,
yakni di angka 21,21%.
Maka itu, pemerintah harus cermat menerapkan PTM.
Penularan Covid di sekolah harus benar-benar dihindari dan diantisipasi. Salah
satu caranya adalah mempercepat vaksinasi bagi guru dan penerapkan protocol
yang ketat pada saat sekolah dibuka..











